Tuesday, March 06, 2007

Helicopter Jadi Tontonan Anak-anak

(Sisi Lain Kunjungan Rusli Zainal Ke Selatpanjang)





Kunjungan Rusli Zainal sebagai ketua DPD GOLKAR Riau dalam rangka pemberian 1000 sembako kepada masyarakat miskin Selatpanjang, pada hari Minggu, 2 Maret 2007 kemarin, ternyata memberikan hiburan tersendiri bagi masyarakat Selatpanjang, terutama bagi anak-anak.

Bagaimana tidak, 2 buah helicopter – kendaraan yang membawa Rusli Zainal berserta rombongan – menjadi tontonan gratis bagi masyarakat Selatpanjang. Pasalnya, kendaraan ini tergolong sangat langka dan jarang sekali mendarat di kota Selatpanjang.

Sebagian besar masyarakat Selatpanjang berduyun-duyun datang ke lapangan Gelora – tempat helicopter mendarat – bukan sekedar untuk menyambut kedatangan orang nomor satu di Riau tersebut, tapi tujuan utama mereka adalah untuk melihat langsung helicopter yang menerbangkan Rusli Zainal beserta rombongan.

Saat helicopter tersebut mendarat dan rombongan Rusli Zainal meninggalkan lapangan Gelora, masyarakat – terutama dari golongan anak-anak – langsung mengerumuni pesawat helicopter tersebut. Bahkan, Ada beberapa pengunjung yang sengaja membawa kamera untuk berfoto di helicopter, ada pula yang mengambil foto dengan menggunakan handphone.

Selama ini anak-anak Selatpanjang melihat helicopter hanya di layar kaca saja. Tapi kali ini mereka punya kesempatan melihat helicopter yang sesungguhnya. Tentu saja dengan kehadiran dua buah helicopter ini merupakan suatu moment penting bagi anak-anak. Oleh karena itu, kesempatan ini digunakan para orang tua untuk mengabadikannya dengan mengambil gambar anak-anak mereka dengan helicopter tersebut.

Hal ini didukung pula dengan sikap dari petugas keamaan yang berjaga disekitar area helicopter tersebut, memberikan izin kepada anak-anak untuk melihat helicopter secara dekat. Begitu pula dengan pilot-pilotnya yang ramah mau diajak foto bersama dengan anak-anak.

Menurut saya, hal ini sangat positif sekali. Mudah-mudahan di masa mendatang pembesar negeri Riau lebih sering berkunjung ke Selatpanjang – tidak berkunjung mejelang musim Pilkada saja – agar anak-anak bisa mendapatkan hiburan yang serupa. Lebih dari itu, saya juga mengharapkan ini tidak hanya sebatas menjadi tontonan, tapi harusnya bisa dijadikan sebagai informasi pendidikan buat anak-anak. Tentu saja apabila pilotnya mau menjelaskan bagaimana kerja dari pesawat yang mirip hewan capung tersebut bisa terbang tinggi.

Friday, February 16, 2007

Jangan Cemari Perjuangan Meranti

Ini adalah sambungan dari tulisan saya sebelumnya yaitu Kampanye Kabupaten Meranti Hanya Diramaikan Spanduk. Tulisan kali ini tentu saja masih seputar pembentukan Kabupaten Meranti.

Saat saya menuliskan tulisan ini, beberapa tokoh Meranti dari Selatpanjang sedang berada di Jakarta guna mendesak DPR, DPD, dan pemerintah pusat untuk segera merealisasikan pembentukan Kabupaten Meranti.

Dari informasi yang saya dapat, keberangkatan perwakilan Meranti tersebut disponsori oleh salah seorang calon bupati yang kalah dalam Pilkada Kabupaten Bengkalis tahun 2005 lalu. Herannya, tokoh tersebut bukan berasal dari Selatpanjang maupun Meranti. Tentu ini akan menimbulkan pertanyaan, ada apa dibalik semua ini? Mungkinkah ada unsur balas dendam?

Bila dugaan itu benar, sangat disayangkan perjuangan Kabupaten Meranti yang dilaungkan sejak tahun 1958 dikotori dengan niat balas dendam politik oleh orang yang hanya memanfaatkan situasi demi kepentingan pribadinya. Seharusnya perjuangan Meranti benar-benar murni perjuangan seluruh masyarakat di kepulauan Meranti, bukan atas desakan dari orang luar yang hanya ingin melampiaskan dendamnya semata.

Masyarakat Selatpanjang atau Meranti boleh saja kecewa dengan Pemerintah Kabupaten Bengkalis. Selama itu Pemkab terkesan lebih mementingkan pembangunan di kota Bengkalis. Sedangkan daerah-daerah kecamatan lain hanya merasakan sedikit pembangunan. Sebut saja pembangunan pelabuhan internasional yang dibangun di kota Bengkalis, tak banyak manfaat yang dirasakan oleh masyarakat, terutama masyarakat di luar kota Bengkalis, dan tak banyak pula turis yang singgah. Padahal masyarakat Meranti lebih memerlukan jalan penghubung antar desa, rumah sakit, dan listrik di daerah mereka. Tidak meratanya pembangunan ini, lebih-lebih dirasakan oleh Kecamatan Merbau, meskipun Merbau adalah salah satu daerah penghasil minyak bumi di Kabupaten Bengkalis.

Meskipun demikian, pemekaran atau pembentukan kabupaten harus disikapi dengan arif, bijaksana dan penuh perhitungan. Bukan disikapi dengan gegabah apalagi dicemari dengan dendam politik. Alangkah baiknya jika Selatpanjang atau Kepulauan Meranti membenahi segala infrastruktur yang belum tersedia. Dan mendesak Pemkab Bengkalis untuk segera melaksanakan pembangunan infrastruktur di desa-desa yang masih jauh tertinggal. Tentu saja ini memerlukan waktu yang cukup lama, namun jika seluruh komponen masyarakat Meranti punya niat untuk membangun daerahnya, dalam waktu 5 tahun segala cita-cita pembentukan kabupaten akan terwujud.

Saya khawatir jika pembentukan kabupaten Meranti dilaksanakan dalam waktu dekat ini, akan menyesengsarakan masyarakat. Perubahan status wilayah dari kecamatan menjadi kabupaten tentu saja akan membuat tarif pajak dan retribusi akan naik, belum lagi ulah pengusaha yang seenaknya menaikkan harga barang. Apakah masyarakat sudah siap menerima ini?

Dan yang lebih penting lagi masalah listrik di Selatpanjang yang hidup enggan, mati pun segan. Listrik di Selatpanjang yang disuplai oleh PLN dan BUMD Kabupaten Bengkalis sedang mengalami masalah kerusakan mesin yang menyebabkan pemadaman. PLN pun tidak mampu mengatasi masalah tersebut dan hanya menunggu bantuan Pemkab Bengkalis. Bagaimana jika nantinya Selatpanjang lepas dari Kabupaten Bengkalis? Apakah serta merta masalah listrik di Selatpanjang langsung teratasi?

Saya heran, mengapa semua tokoh pejuang pembentukan Kabupaten Meranti – terutama yang berasal dari Selatpanjang – terlalu sibuk menghitung jumlah PAD dari kabupaten Meranti, tapi mereka sekalipun tak pernah menghitung kerugian dan penderitaan masyarakat akibat dari kelangkaan minyak tanah, naiknya harga beras dan pemadaman listrik. Anehnya lagi, mereka malah sibuk bagi-bagi jabatan di kabupaten Meranti nantinya, menunjuk si A sebagai bupati, si B kacab dinas ini dan itu. Sangat disayangkan, perjuangan Meranti tidak lagi memikirkan kesejahteraan masyarakat, tapi hanya untuk kepuasan mendapat jabatan dan kekuasaan.

Saya setuju dengan pembentukan kabupaten Meranti, tapi jangan cemari perjuangan ini dengan balas dendam dan ketamakan untuk mendapatkan kekuasaan.
Menurut saya, mencari solusi untuk mengatasi berbagai krisis yang sedang melanda negeri Selatpanjang, itulah yang lebih utama harus diperjuangkan.

Friday, February 09, 2007

Selatpanjang Terancam Flu Burung

Mungkin ini akan menjadi informasi bagi teman-teman sekampung dan setanah air yang sekarang lagi berada di perantauan. Selatpanjang, kampung halaman kita yang tercinta dinyatakan positif flu burung. Setelah dilakukan pemeriksaan pada ayam milik salah satu masyarakat Selatpanjang yang berada daerah Rintis, Desa Banglas Barat. Dari pemeriksaan tersebut dinyatakan positif flu burung.

Pemerintah setempat sudah mengeluarkan perintah larangan pemeliharaan unggas dan meminta masyarakat yang memelihara unggas untuk segera memusnahkan peliharaan mereka untuk menghindari penyebaran penyakit flu burung.
Namun, pemerintah setempat tidak menyatakan hal yang sama terhadap penangkaran burung walet yang marak didirikan di kota Selatpanjang. Dan tidak ada pernyataan resmi dari Pemerintah bahwa burung walet terbebas dari flu burung. Hal ini tentu saja membuat khawatir masyarakat Selatpanjang yang pada umumnya mereka tinggal di kelilingi oleh sarang burung walet.

Akankah masyarakat aman dari flu burung bila sarang-sarang burung walet yang menghiasi kota Selatpanjang tidak ikut dimusnahkan? Ini menjadi pertanyaan seluruh masyarakat Selatpanjang dan semoga Pemerintah setempat mampu memberikan jawaban.

PeTuaH

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan